Meluruskan Persepsi Tentang Keutamaan Bulan Rajab
Beberapa hal penting yang wajib diketahui berkenaan dengan keutamaan dan amalan-amalan tertentu di bulan Rajab adalah sebagai berikut:
01 Status Hadits Keutamaan Rajab
Pertama, hadits-hadits yang secara khusus menuturkan keutamaan bulan Rajab dan puasa khusus di bulan Rajab bukanlah hadits-hadits shahih. Sebagian di antaranya adalah hadits dla’if, sedangkan yang lain hadits maudlu’ (palsu). Al Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalaniy di dalam Kitab Tabyiin al-‘Ujubi bimaa Warada fi Fadl Rajab menyatakan:
وأما الأحاديث الواردة في فضل رجب، أو فضل صيامه، atau صيام شيء منه صريحة، فهي على قسمين: ضعيفة، وموضوعة.
“Adapun hadits-hadits yang menuturkan keutamaan bulan Rajab, atau keutamaan puasa Rajab, atau puasa khusus di bulan Rajab, maka hadits-hadits tersebut ada dua macam, yakni dla’if dan maudlu’”. [Al-Hafidz Ibnu Hajar al-‘Asqalaniy, Tabyiin al-‘Ujubi bimaa Warada fi Fadll Rajab, hal.3].
Namun, menurut Imam Ibnu Hajar, sudah masyhur di kalangan ulama, bahwasanya menggunakan hadits-hadits dla’if untuk keutamaan ‘amal (fadlaa’ilul ‘amal), bukanlah perkara yang dilarang atau bid’ah. Hanya saja, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi, yaitu;
-
Hadits itu bukan berujud hadits maudlu’.
-
Harus diyakini sebagai hadits dla’if.
-
Tidak dimasyhurkan agar hadits itu tidak disangka sebagai hadits shahih oleh orang awam.
لم يرد في فضل شهر رجب، ولا في صيامه، ولا في صيام شيء منه، - معين، ولا في قيام ليلة مخصوصة فيه - حديث صحيح يصلح للحجة، وقد سبقني إلى الجزم بذلك الإمام أبو إسماعيل الهروي الحافظ... ولكن اشتهر أن أهل العلم يتسامحون في إيراد الأحاديث في الفضائل وإن كان فيها ضعف، ما لم تكن موضوعة...
“Tidak ada riwayat shahih yang menuturkan keutamaan bulan Rajab, puasa Rajab, puasa tertentu di bulan Rajab, dan sholat malam tertentu di bulan Rajab yang layak dijadikan hujjah... Tetapi sudah masyhur, bahwasanya ahli al-‘ilmi memberikan toleransi dalam menerima hadits-hadits dalam masalah keutamaan, walaupun hadits itu dla’if, dan selama tidak maudlu’... Ini ditujukan agar seseorang tidak beramal dengan hadits dla’if, lalu mensyariatkan sesuatu yang sebenarnya tidak disyariatkan...” [Al-Hafidz Ibnu Hajar al-‘Asqalaniy, Tabyiin al-‘Ajabi bimaa Warada fi Fadll Rajab, hal. 2].
02 Hujjah Utama: Al-Quran & As-Sunnah
Kedua, yang layak dijadikan hujjah untuk menetapkan keutamaan bulan Rajab, serta amal-amal apa saja yang dilakukan untuk mengisi bulan Rajab adalah Al-Quran dan hadits-hadits shahih.
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ...
“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan... di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu...” [TQS At Taubah (9):36]
Yang dimaksud bulan Haram adalah Rajab, Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram. Imam As Sakhawiy menjelaskan bahwasanya nama Rajab diambil dari kata al-tarjiib, yang maknanya adalah al-ta’dziim (pengagungan).
الزَّمَانَ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللَّهُ السَّمَوَاتِ وَالأرْضَ ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ، ثَلاثٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِى بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ
“Perhatikan, sesungguhnya masa itu berputar sebagaimana bentuknya pada hari Allah menciptakan langit dan bumi... ada empat bulan haram dan tiga yang berturut-turut; Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram, serta Rajab yang sendirian, yang antara bulan Jumadi dan Sya’ban”. [HR. Imam Bukhari, Muslim, Ahmad].
03 Pendapat Tentang Keutamaan Mutlak
Ketiga, ada sebagian ulama yang berpendapat bahwasanya bulan Rajab adalah bulan yang paling utama dibandingkan bulan-bulan yang lain. Hanya saja, pendapat ini lemah.
Imam Al-Hafidz Ibnu Hajar al-Haitsamiy di dalam Kitab Al-Fatawa al-Kubra al-Fiqhiyyah menjelaskan bahwa meskipun hadits larangan puasa Rajab (Ibnu Majah) adalah mauquf, namun Nabi SAW secara umum menyunnahkan puasa di Bulan Haram (termasuk Rajab).
"Dan telah ditetapkan sunnahnya puasa di bulan Rajab, dan puasa di bulan Rajab tidak makruh". [Imam Al-Hafidz Ibnu Hajar al-Haitsamiy, Juz 2/69].
Amalan-amalan di Bulan Rajab
"Meskipun tidak ada hadits shahih untuk ibadah khusus Rajab (seperti sholat raghaib), kaum Muslim tetap dianjurkan memperbanyak amal sunnah berdasarkan dalil umum bulan Haram."
Berpuasa
Puasa sunnah yang absah adalah puasa di sebagian bulan Haram. Nabi saw bersabda kepada Abu Mujiyyah:
... صم شهر الصبر ، وثلاثة أيام بعده ، وصم أشهر الحُرُم
“Berpuasalah di hari kesabaran, dan tiga hari setelahnya. Dan berpuasalah di bulan Haram”. [HR. Ibnu Majah].
Catatan: Imam Abu Dawud mengisyaratkan untuk berpuasa sebagian dan meninggalkan sebagian di bulan Haram.
Berumrah
Disunnahkan melakukan ‘umrah di bulan Rajab. Meskipun Aisyah RA menyebut Nabi tidak umrah di bulan Rajab, Umar bin Khaththab RA dan para sahabat lain menganjurkan kaum Muslim umrah di bulan ini. Menurut Imam Ibnu Rajab, umrah di bulan Rajab adalah sunnah.
Menyembelih Binatang (Al-'Atirah)
Para ulama berbeda pendapat tentang al-‘atirah (menyembelih pada 10 hari pertama Rajab). Imam Syafi’iy dan Imam Ahmad bin Hanbal memuji atirah.
يَا أَيّهَا النَّاس عَلَى كُلّ أَهْل بَيْت فِي كُلّ عَام أُضْحِيَّة وَعَتِيرَة...
“Wahai manusia, wajib atas setiap ahlul bait setiap tahun melaksanakan korban dan ‘atirah... Atirah adalah apa yang mereka namakan dengan al-rajabiyyah”. [HR. Ashhabus Sunan]. Imam Tirmidziy menghasankannya.
Amalan Sunnah Lainnya
Selain amalan di atas, masih banyak amalan sunnah yang bisa dikerjakan di bulan Rajab, di antaranya: