Evaluasi mendalam atas perjalanan iman dan amal berdasarkan standar Syariah Islam yang murni.
Manusia setiap saat harus selalu memilih antara berbuat taqwa dan berbuat maksiat. Terkadang manusia condong kepada kebaikan (taqwa), namun terkadang manusia juga dapat condong kepada keburukan (kefasikan).
Namun alhamdulillah, Allah telah membuka pintu taubat bagi siapa saja yang berdosa (memilih keburukan), dan Allah telah menunjukkan Muhasabah sebagai jalan bagi manusia untuk mengevaluasi jalan yang dipilihnya.
"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat)..."
— QS Al-Hasyr : 18
Tafsir Imam Ibnu Katsir:
"Hitunglah (hisablah) diri kalian sebelum kalian dihitung (dihisab), dan perhatikanlah bekal apa yang telah kalian kumpulkan dari amal-amal shalih untuk hari pembalasan kelak."
Berpikirnya seorang muslim atas dirinya sendiri untuk menyingkapkan kekurangan atau kemaksiatan yang dilakukannya, agar ia dapat melepaskan diri melalui Taubat, serta menyingkapkan ketaatan agar ia dapat Bersyukur.
Ditujukan untuk dihentikan dan dihindari dengan jalan Taubat nasuha.
Ditujukan untuk disyukuri dengan jalan mengulangi ketaatan tersebut secara istiqomah.
"Orang yang cerdas (Al-Kayyis) adalah orang yang mampu menghisab dirinya sendiri serta beramal untuk kehidupan setelah kematian..." (HR. Tirmidzi)
"Hisablah diri kalian sebelum kalian dihitung (dihisab), dan timbanglah amal kalian sebelum kalian ditimbang..." (Ighatsatul Lahfan)
Manusia akan dihisab dan diadili oleh Allah SWT pada hari Kiamat, dengan standar Hukum-Nya, bukan hukum buatan manusia.
Jadi, kebaikan dan keburukan yang menjadi standar dalam MUHASABAH DIRI tiada lain hanyalah Syariah Islam. Jangan sampai kita salah menimbang diri menggunakan hukum buatan manusia.
Menghentikan kekurangan dan kemaksiatan untuk kembali suci.
Menyukuri ketaatan dan bertekad untuk mengulanginya terus menerus.