Sorotan Publik & Opini

Anak 12 Tahun Diduga Pelakunya, Bukan Bapaknya

"Netizen Masih Tak Percaya, Berharap Plot Twist"

Asri Supatmiati

Mantan Jurnalis & Penulis Buku

Penyelidikan final. Polisi menegaskan bahwa AI, anak 12 tahun perempuan, masih kelas 6 SD itu, diduga kuat sebagai pelaku tunggal yang menghabisi ibunya dengan brutal.

Bak adegan di film thriller, sebanyak 26 tikaman merobek sekujur tubuh sang ibu yang melahirkannya. Netizen tercekat. Masih berharap plot twist, bahwa bukan dia pelakunya. Sang ayah yang kebetulan dalam posisi tidak akur dengan sang istri, menjadi sasaran fitnah.

Sampai detik ini, netizen masih tidak percaya bahwa anak perempuan yang mustinya masih murni itu adalah eksekutornya. Namun, polisi tegas mengatakan, tidak ditemukan DNA lain di tubuh korban.

Motif Berdasarkan Penyelidikan:

01.

Sakit hati karena ibu sering memarahi dia, kakak, dan ayahnya.

02.

Sakit hati karena ibu menghapus salah satu aplikasi game onlinenya.

Lalu yang mendorongnya melakukan tindakan sadis adalah obsesi dengan game Murder Mystery pada session Kills Others yang menggunakan pisau, serta menonton serial anime DC episode 271 saat adegan pembunuhan menggunakan pisau.

Sangat mengerikan. Sejauh itu kerusakan pola pikir si anak karena pengaruh lingkungan rumah yang penuh kekerasan, plus tontonan yang juga penuh kesadisan. Tidakkah ini cukup untuk menjadi pelajaran bahwa sudah saatnya anak di bawah umur dilarang memiliki gadget?

Nalar yang Hilang

Kini kita harus menerima kenyataan bahwa di zaman modern ini manusia justru kembali ke perilaku primitif; bermudah-mudah menghilangkan nyawa hanya karena sakit hati.

Dulu, umur 12 tahun kita masih bermain boneka, merengek minta jajan, dan rajin ke surau atau masjid. Anak-anak laksana kertas putih yang dunianya hanya bermain, belajar, dan takdzim pada orang tua.

Hari ini, anak-anak kebanjiran informasi sampah ratusan gigabyte. Ibarat hardisk, benak mereka menyimpan konten yang mereka sendiri belum mampu proses: mana baik-buruk, mana fiksi-realita.

Analisis Pakar (Reza Indragiri Amriel):

Pekerjaan Rumah & Solusi Sistemik

Cukup kita jadikan pelajaran bahwa kita hidup dalam lingkungan buruk. Kesalahan bukan hanya di anak atau orang tua, keduanya adalah korban sistem kehidupan yang buruk.

Pertama: Pondasi Aqidah Menjadikan aqidah Islam sebagai pondasi keluarga; takut hanya kepada Allah Swt.

Kedua: Steril Kekerasan Hubungan orang tua-anak harus steril dari kekerasan fisik dan psikis.

Ketiga: Komunikasi Terbuka Dialog yang mengajak berpikir untuk membangun kemandirian memilah baik dan buruk.

Keempat: Kerjasama Keluarga Besar Pendampingan antar anggota keluarga suami/istri untuk mencari jalan keluar dengan Islam.

Kelima: Kontrol Masyarakat Menggalakkan Amar Ma'ruf Nahi Mungkar untuk tegaknya sistem Islam di keluarga dan negara.

Keenam: Peran Negara

Negara memiliki peran terbesar untuk menciptakan suasana kondusif. Negara wajib mendidik masyarakat dengan aqidah Islam sebagai benteng pertahanan diri.

Negara harus menstabilkan ekonomi umat, mengatur interaksi pria-wanita, dan memberlakukan sistem sanksi Islam yang tegas untuk mencegah kriminalitas.

Negara wajib membatasi media informasi; menghapus hal buruk sesuai batasan dalam kitab Ad-Daulah bab Penerangan karya Syeikh Taqiyuddin.

Perjuangkan Negara Pelindung Rakyat

Negara itu bukanlah yang berbasis sekulerisme, melainkan berbasis Aqidah Islam yang kokoh: Daulah Khilafah Islamiyah yang telah terbukti berabad-abad melindungi rakyatnya.

Baca Sumber & Komentar